Romansa lecek kertas
0
Diposting oleh Ben'Art | | Posted on Sabtu, 21 November 2009
Senandung kidung
Semboyannya berlari
Sepasang kuping sibuk menangkap
Rona wajah memerah
Saat hati terjaili nada
Senandungku senandung rindu
Aku kan bernyanyi jika kau mampu
Menjawab semua pertanyaan
Yang menyibuki pagi
Dengan sebaris syair konyol
Didalam kamar mandi
Selalu menyibukkan senja
Saat menutup
Dengan setaman mawar
Tak henti-hentinya mengendus walau tak wangi
Membuat malam tak bisa mengenakan jubah pekat
Selalu menangis tak hentihenti dihadapnya
Dengan ucapan yang tak bisa dimengerti siapapun
Tolong jawab aku
Sekiranya senandung kidung ini
Teramat ingin kunyanyikan untukmu
Sebelum kertas ini menjadi sampah
Dan menjadi abu termakan api cemburu
luca satria
15 september 2009
Bangau kertas
Kulipat,
Kurangkai,
Kudapati,
Demi sebuah warnawarni
Sebuah lengkung pelangi
Dalam gerimis hatimu
Dalam janji hati yang terorigami
Di batas lelah seribu lipat bangau kertas
Danau yang ku ciptakan dari getar jemari
Menghunus lapis batas logika kata cinta
Berharap gerimis hatiku mencucur
Ciptakan lengkung pelangi
Haaaah….
Rupanya semua tak berwarna
Pucuk pasang sepucuk
sembilanratus sembilanpuluh sembilan
Bangau kertas kau hentikan tuk menjadi seribu
Lalu kau panah dengan seribu mata busur api benci
Satu busur menancap tepat dalam origami hatiku
sembilanratus sembilanpuluh sembilan bangau kertas
Menjadi sampah, tenggelam dalam dasar danau peluhku
Lipatan bangau itu memang tak hidup
Tetapi sentuhan tulus para jemari
Membuat berpinak bangau itu lebih dari hidup
Lebih dari sekedar pencibir para bibir
Satu bangau tak sempat terlipat menjadi seribu
Kini ku gantung
Dalam lotengloteng tak beratap
Menunggu banjir tangis sang munafik cinta
Dalam danau seribu bangau yang ku ciptakan
Sebelumnya kau buat kering dan bermakam
september ke 18
Sepasang pucuk surat
Bisakah kita saling melihat
Jangan saja kau selalu palingkan muka
Ketika ku ingin tahu
Kau telah menyekap aku didalam sana
Benarkah…
Dibawah angsana ini termakam
Sepasang baris bait yang hidup dalam benak
Tuk menjawab,
Pertanyaan dari sebuah pertanyaan
Untuk sebuah jawaban
dari duapuluhdua bulan menunggu
tahukah kau… angsana itu pernah tumbang dan mati
dimana dibawah akarnya tetanam jawaban
sepasang pucuk surat
untuk aku, mungkinkah kau juga
yang tak datang di hari pejanji itu
kemanakah kenyataan lidahmu
aku tau kau tak akan datang untuk hari itu
untuk nanti, kutanam lagi angsana yang serupa tak sama
demi kau ku hidupkan lagi janji itu
untuk jawaban sepasang pucuk surat
tak kan bisa kau temukan tanpa tegak angsana itu
alasan itulah ku tanama kembali
sebelum ku pergi
tegak angsana merah palsu, sepalsu janji
September Ke 23
Semboyannya berlari
Sepasang kuping sibuk menangkap
Rona wajah memerah
Saat hati terjaili nada
Senandungku senandung rindu
Aku kan bernyanyi jika kau mampu
Menjawab semua pertanyaan
Yang menyibuki pagi
Dengan sebaris syair konyol
Didalam kamar mandi
Selalu menyibukkan senja
Saat menutup
Dengan setaman mawar
Tak henti-hentinya mengendus walau tak wangi
Membuat malam tak bisa mengenakan jubah pekat
Selalu menangis tak hentihenti dihadapnya
Dengan ucapan yang tak bisa dimengerti siapapun
Tolong jawab aku
Sekiranya senandung kidung ini
Teramat ingin kunyanyikan untukmu
Sebelum kertas ini menjadi sampah
Dan menjadi abu termakan api cemburu
luca satria
15 september 2009
Bangau kertas
Kulipat,
Kurangkai,
Kudapati,
Demi sebuah warnawarni
Sebuah lengkung pelangi
Dalam gerimis hatimu
Dalam janji hati yang terorigami
Di batas lelah seribu lipat bangau kertas
Danau yang ku ciptakan dari getar jemari
Menghunus lapis batas logika kata cinta
Berharap gerimis hatiku mencucur
Ciptakan lengkung pelangi
Haaaah….
Rupanya semua tak berwarna
Pucuk pasang sepucuk
sembilanratus sembilanpuluh sembilan
Bangau kertas kau hentikan tuk menjadi seribu
Lalu kau panah dengan seribu mata busur api benci
Satu busur menancap tepat dalam origami hatiku
sembilanratus sembilanpuluh sembilan bangau kertas
Menjadi sampah, tenggelam dalam dasar danau peluhku
Lipatan bangau itu memang tak hidup
Tetapi sentuhan tulus para jemari
Membuat berpinak bangau itu lebih dari hidup
Lebih dari sekedar pencibir para bibir
Satu bangau tak sempat terlipat menjadi seribu
Kini ku gantung
Dalam lotengloteng tak beratap
Menunggu banjir tangis sang munafik cinta
Dalam danau seribu bangau yang ku ciptakan
Sebelumnya kau buat kering dan bermakam
september ke 18
Sepasang pucuk surat
Bisakah kita saling melihat
Jangan saja kau selalu palingkan muka
Ketika ku ingin tahu
Kau telah menyekap aku didalam sana
Benarkah…
Dibawah angsana ini termakam
Sepasang baris bait yang hidup dalam benak
Tuk menjawab,
Pertanyaan dari sebuah pertanyaan
Untuk sebuah jawaban
dari duapuluhdua bulan menunggu
tahukah kau… angsana itu pernah tumbang dan mati
dimana dibawah akarnya tetanam jawaban
sepasang pucuk surat
untuk aku, mungkinkah kau juga
yang tak datang di hari pejanji itu
kemanakah kenyataan lidahmu
aku tau kau tak akan datang untuk hari itu
untuk nanti, kutanam lagi angsana yang serupa tak sama
demi kau ku hidupkan lagi janji itu
untuk jawaban sepasang pucuk surat
tak kan bisa kau temukan tanpa tegak angsana itu
alasan itulah ku tanama kembali
sebelum ku pergi
tegak angsana merah palsu, sepalsu janji
September Ke 23

