Karya Terbaru

Puisiku dalam surat kabarPuisiku dalam surat kabarLahir di Jakarta, pada tanggal 06 september 1985, tepatnya di Pisangan Lama, Jati Negara, Kini sedang menggeluti buku di Universitas Pamulang, Fakultas Teknik Mesin, Semester akhir.

Baca Selengkapnya

Marro.ws is web-clipping tool We are visiting internet and saving some things everyday. If you are reading an article on internet and like just two sentences of this article, what will you do? Do you use Delicious to save the link of article? Or will you save the link to your bookmarks?...

Readmore

Romansa lecek kertasRomansa lecek kertas Senandung kidung, Bangau kertas, Sepasang pucuk surat...

Readmore

An image in a post Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam...

Readmore

Cash-Out Refinance For many, their homes are just not dwellings that protect them against rain, sun, and wind. But they are piggy banks, which can be used to raise some urgent money, even if the home still lays collateral...

Readmore

Rss

Romansa lecek kertas

0

Diposting oleh Ben'Art | | Posted on Sabtu, 21 November 2009

Senandung kidung

Semboyannya berlari
Sepasang kuping sibuk menangkap
Rona wajah memerah
Saat hati terjaili nada

Senandungku senandung rindu
Aku kan bernyanyi jika kau mampu
Menjawab semua pertanyaan
Yang menyibuki pagi
Dengan sebaris syair konyol
Didalam kamar mandi

Selalu menyibukkan senja
Saat menutup
Dengan setaman mawar
Tak henti-hentinya mengendus walau tak wangi

Membuat malam tak bisa mengenakan jubah pekat
Selalu menangis tak hentihenti dihadapnya
Dengan ucapan yang tak bisa dimengerti siapapun

Tolong jawab aku
Sekiranya senandung kidung ini
Teramat ingin kunyanyikan untukmu
Sebelum kertas ini menjadi sampah
Dan menjadi abu termakan api cemburu

luca satria
15 september 2009


Bangau kertas

Kulipat,
Kurangkai,
Kudapati,

Demi sebuah warnawarni
Sebuah lengkung pelangi
Dalam gerimis hatimu
Dalam janji hati yang terorigami
Di batas lelah seribu lipat bangau kertas

Danau yang ku ciptakan dari getar jemari
Menghunus lapis batas logika kata cinta
Berharap gerimis hatiku mencucur
Ciptakan lengkung pelangi

Haaaah….

Rupanya semua tak berwarna
Pucuk pasang sepucuk
sembilanratus sembilanpuluh sembilan
Bangau kertas kau hentikan tuk menjadi seribu
Lalu kau panah dengan seribu mata busur api benci
Satu busur menancap tepat dalam origami hatiku
sembilanratus sembilanpuluh sembilan bangau kertas
Menjadi sampah, tenggelam dalam dasar danau peluhku

Lipatan bangau itu memang tak hidup
Tetapi sentuhan tulus para jemari
Membuat berpinak bangau itu lebih dari hidup
Lebih dari sekedar pencibir para bibir

Satu bangau tak sempat terlipat menjadi seribu
Kini ku gantung
Dalam lotengloteng tak beratap
Menunggu banjir tangis sang munafik cinta
Dalam danau seribu bangau yang ku ciptakan
Sebelumnya kau buat kering dan bermakam

september ke 18

Sepasang pucuk surat

Bisakah kita saling melihat
Jangan saja kau selalu palingkan muka
Ketika ku ingin tahu
Kau telah menyekap aku didalam sana
Benarkah…

Dibawah angsana ini termakam
Sepasang baris bait yang hidup dalam benak
Tuk menjawab,
Pertanyaan dari sebuah pertanyaan
Untuk sebuah jawaban
dari duapuluhdua bulan menunggu

tahukah kau… angsana itu pernah tumbang dan mati
dimana dibawah akarnya tetanam jawaban
sepasang pucuk surat
untuk aku, mungkinkah kau juga
yang tak datang di hari pejanji itu
kemanakah kenyataan lidahmu
aku tau kau tak akan datang untuk hari itu
untuk nanti, kutanam lagi angsana yang serupa tak sama
demi kau ku hidupkan lagi janji itu
untuk jawaban sepasang pucuk surat
tak kan bisa kau temukan tanpa tegak angsana itu
alasan itulah ku tanama kembali
sebelum ku pergi
tegak angsana merah palsu, sepalsu janji

September Ke 23

Romansa getar menggetar

0

Diposting oleh Ben'Art | | Posted on Senin, 12 Oktober 2009


I

Satu, dua, tiga, getaran menyusul empat
Meluluh lantahkan kota sebelah barat nusa andalas
Jerit menjerit ibu pertiwi telah membiasa di hadap raja
Entah kutukan atau hukuman sang pendosa
Nyata ternyata
Seleksi alam besar-besaran pada manusia dalam nusantara
Mistis bermistis dari warna-warni bibir kalangan raja
Salah menyalah, sindir menyindir
Tak perduli tangis dibalik puing-puing yang membisu
Di ceraikan nyawa

Apakah bencana betah bergilir
Melucuti setiap nusa
Siapakah giliran akan terperkosa
Dan dia siap menangis

Atau praduga logika
Asik bermain layang tanpa kencana angin

Duga pra duga
Bumi asik tergosip
Bukan itu bukan ini
Luka harus tersembuhkan
Sebelum semua bermakam


Luca satria
Muncul, 12 oktober 2009